Jumat, 25 Maret 2011

Mengapa Rokok Bisa Membunuh



KOMPAS.com — Sudah tak terhitung penelitian yang dilakukan untuk mengetahui dampak rokok terhadap kesehatan fisik dan emosi. Diperkirakan seperlima orang di dunia tiap tahun meninggal karena penyakti yang berkaitan dengan rokok.

Bila tidak sampai membunuh, paling tidak rokok akan mengurangi hak Anda untuk sehat lebih lama. Selain itu, rokok juga akan memperparah penyakit yang sedang Anda derita.

Penelitian menunjukkan, asap rokok mengandung sekitar 4.000 bahan kimia, termasuk bermacam-macam racun dalam takaran sangat kecil. Pada setiap isapan, racun-racun ini akan masuk melalui paru-paru, kemudian meneruskannya ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah. Sebagian racun-racun ini dikenal sebagai radikal bebas.

Riset teranyar yang dilakukan para peneliti dari National Cheng Kung University di Taiwan menunjukkan, zat karsinogenik dalam rokok yang disebut NNK menyebabkan kanker paru.

"NKK membuat akumulasi protein yang disebut DNMT1 di dalam inti sel. Selanjutnya, DNMT1 akan membuat gen berubah menjadi sel-sel tumor," kata peneliti dalam laporan yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Investigation. Para peneliti juga menemukan tingginya kadar DNMT1 pada pasien kanker paru dengan diagnosis buruk.

Sementara itu, nikotin dalam asap tembakau menyebabkan kelenjar-kelenjar adrenal memproduksi hormon yang meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung sehingga jantung Anda bekerja lebih keras. Ini salah satu alasan mengapa perokok berisiko menderita serangan jantung dan stroke.

Merokok juga mengurangi kemampuan Anda untuk tetap bugar karena menghabiskan oksigen yang diperlukan untuk menyegarkan tubuh dan otak Anda.

Sebuah studi yang dilakukan peneliti dari Inggris menemukan bahwa perokok yang tertular HIV dua kali lebih cepat mendapatkan serangan AIDS dibandingkan dengan bukan perokok.

healthdaynews
Penulis: AN                                    

Kok Pilih Rokok daripada Biayai Sekolah Anak!


Penulis: Abdi Susanto 




SURABAYA, KOMPAS.com - Konsumsi rokok diyakini sebagai salah satu indikator kemiskinan masyarakat Indonesia selama ini, akibatnya perilaku tersebut tidak hanya dapat mengurangi pendapatan, belanja bulanan keluarga, hingga berujung pada kematian.

"Saya pernah menemukan kesaksian ada seorang sopir berpenghasilan Rp50 ribu sehari dengan empat anak yang kedua anaknya tidak sekolah dengan alasan biaya. Anehnya, sopir tersebut mampu menghabiskan uang Rp24 ribu per hari untuk membeli tiga pak rokok," kata Peneliti Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Abdillah Ahsan, di Surabaya, Kamis.

Ia mengakui, hal itu memang fenomena umum yang sering ditemui diantara masyarakat miskin di Indonesia. "Meski sang kepala rumah tangga memiliki penghasilan terbatas, ia mengonsumsi rokok seperti layaknya kereta api," katanya.

Menurut dia, merokok berdampak pada berkurangnya pendapatan yang bisa dibelanjakan untuk kepentingan lain seperti makanan yang sehat dan layak, biaya sekolah, dan sebagainya.

"Semisal, seorang kepala keluarga mengonsumsi rokok satu pak seharga Rp5 ribu per hari. Padahal, uang yang terbakar melalui rokok tersebut bisa dibelikan tiga butir telur yang mengandung banyak gizi untuk makan seluruh anaknya," katanya.

Selain itu, kata dia, secara ilmiah terbukti bahwa merokok menimbulkan banyak masalah kesehatan dan meningkatkan biaya kesehatan yang jumlahnya bisa tiga kali lipat dari cukai rokok.

"Bahkan, lebih dari 70.000 penelitian di Amerika Serikat berhasil membuktikan bahaya merokok bagi kesehatan," katanya.

Melihat beragam kenyataan itu, ia berharap, pemerintah mengambil sikap tegas. Salah satunya dengan menaikkan harga cukai rokok, melarang secara total iklan rokok, dan memasang peringatan bergambar mengenai bahaya merokok.

"Sekarang, besaran cukai rokok rata-rata baru 38 persen. Padahal, dalam Pasal 5 UU Nomer 39 Tahun 2007, pemerintah boleh mematok cukai hingga 57 persen. Namun, besaran itu ternyata masih rendah dibandingkan patokan cukai luar negeri yang mencapai 65 persen," katanya.          

Kamis, 24 Maret 2011

Regulasi Rokok, ke Mana SBY Berpihak?


Penulis: Bramirus Mikail | Editor: Tri Wahono
Senin, 21 Maret 2011 | 19:41 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Rancangan peraturan pemerintah tentang rokok yang isinya dengan tegas mencantumkan pelarangan iklan, promosi, dan sponsor produk mengandung tembakau belum juga disahkan. Padahal, korban rokok sudah berjatuhan dan banyak diderita kaum marjinal.
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mencatat, berdasarkan hasil survei pada tahun 2007, sebanyak 1.127 orang meninggal setiap hari akibat rokok. Indonesia tercatat menempati peringkat ketiga dunia setelah China dan India sebagai negara dengan penduduk paling banyak mengonsumsi rokok.
"Dari 80 juta perokok aktif di Indonesia, 75 persen adalah orang miskin. Rokok menduduki skala prioritas kedua setelah beras," ujar Sudaryatmo, Pengurus Harian YLKI, kepada Kompas.com di kantornya, Senin (21/3/2011).
YLKI menilai, pemerintah dalam hal ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merupakan kunci dari segudang permasalahan yang disebabkan oleh rokok. Namun, Sudaryatmo menambahkan, bicara soal regulasi tembakau, ada dua kubu yang saling berhadapan, yakni kubu ekonomi dan kesehatan.
"Dalam konteks internasional di banyak negara, ini sudah dimenangkan kubu kesehatan. Namun dalam konteksnya di Indonesia, karena secara ekonomi rokok memberikan kontribusi, situasi ini membuat tarik-menarik antara kubu kesehatan dan kubu ekonomi," ungkapnya.
Sudaryatmo menilai Presiden lebih pro-ekonomi dibandingkan kesehatan. Hal ini menurutnya terlihat saat Presiden turut meresmikan pabrik rokok di Pacitan. "Kuncinya ada di SBY, apa dia bisa keluar dari kungkungan penjara ekonomi atau dia lebih berpikir bahaya masa depan bagi generasi yang akan datang," tutupnya.
Diketahui, sampai saat ini pemerintah dan DPR telah merampungkan pembahasan rancangan peraturan pemerintah tentang tembakau. Perundang-undangan itu telah memasuki tahap finalisasi dan sudah sampai pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk segera disahkan.