Jumat, 09 September 2011

Setiap Hari 1.000 WNI Meninggal Akibat Rokok 


YOGYAKARTA - Indonesia hingga kini masih berada di peringkat tiga sebagai negara dengan penduduk terbanyak mengonsumsi rokok setelah China dan India. Menurut peneliti dari Pusat Kajian Bioetik dan Perilaku Kesehatan Fakultas Kedokteran (FK) UGM Yayi Suryo Prabandari, kondisi tersebut sama dengan keberadaan masyarakat Indonesia yang terserang TBC. "Indonesia masih tinggi di urutan ke tiga setelah China dan India. Ini sama halnya dengan posisi masyarakat Indonesia yang terserang TBC," kata Yayi di FK UGM, Yayi Suryo menambahkan sebagaimana hasil survei dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia ini maka setiap harinya di Indonesia diperkirakan 1.172 orang tewas akibat tembakau khususnya rokok ini. Dari jumlah itu memang masih didominasi kaum pria yang mencapai 67 persen dan perempuan sekira 5 persen. Namun demikian saat ini telah ada tren peningkatan jumlah remaja terutama kaum putri yang merokok hingga 30 persen. Sementara itu menurut peneliti lainnya Prof Sunarto, hingga sekarang di kawasan Asia Pasifik, Indonesia merupakan satu-satunya negara yang belum menerapkan Konvensi soal pemakaian tembakau dalam Framework on Tobaco Control (FCTC) yang telah ditandatangani 160 negara. Padahal dalam konvensi itu diatur secara ketat pemakaian tembakau untuk rokok seperti produksi, iklan dan penggunanya. "Dalam konvensi itu ketat diatur bagaiamana produksi rokok diturunkan, iklan rokok dihapus, anak-anak dilarang merokok hingga pemakaian kawasan rokok," kata Sunarto. Dalam kesempatan tadi Sunarto juga mendesak agar pemerintah bisa menerapkan kebijakan yang telah ditempuh oleh beberapa negara dalam iklan rokok. Di sejumlah negara seperti Thailand, pada setiap bungkus rokok selain ditulis bahaya merokok juga disertai gambar korban bahaya merokok sehingga lambat laun akan mengurangi jumlah perokok. "Dari beberapa survei hal itu juga berpengaruh terhadap tingkat pengguna merokok yang turun jika disertai gambar korban perokok," tutur Sunarto. (Satria Nugraha/Trijaya/ful)

Senin, 01 Agustus 2011

Senin, 02 Mei 2011

Ternyata Merokok tidak Berbahaya!

Ternyata Merokok tidak Berbahaya!
Contributed by Khusnun Widiyati

Banyak orang menghawatirkan bahaya rokok dan menakutinya, tapi setelah diselidiki oleh banyak pakar dalam bidangnya khususnya di milis TM ternyata rokok itu sama sekali tidak berbahaya.
Kemudian para pakar sepakat untuk membuktikannya dengan mengambil dari beberapa hikayat pada zaman dahulu kala dimana pada waktu itu nenek moyang kitapun telah membuktikannya melalui beberapa percobaan, buktinya seperti cerita di bawah ini, dia tetap sehat walafiat.
Untuk lebih jelasnya dapat dibuktikan lewat penemuan oleh beberapa dari ahli di bawah ini:
Pada zaman dahulu kala, ada tiga orang sahabat. Mereka selalu bersama kemana saja mereka pergi. Tapi ketigatiganya
memiliki kegemaran berlainan.
Si - A (suka main perempuan)
Si - B (suka minum minuman keras)
Si - C (suka segala jenis rokok) .
Suatu hari ketiga sahabat ini berjalan jalan tanpa tujuan.
Tiba-tiba ketiganya bertemu dengan sebuah ketel/kendi seperti cerita Aladin). Lalu salah seorang mengambilnya lalu meng-gosok2kan ketel tersebut. Sejurus kemudian asap keluar dari corong ketel tersebut dan secara perlahan berganti menjadi satu makluk yang menyeramkan yakni sesosok jin yang ganas. Lalu jin tersebut tertawa: "Ha ha ha..." dan berkata "Akulah Jin Ifrit!
Karena kamu telah membebaskan aku dari ketel itu maka aku akan tunaikan apa saja permintaan kamu sekalian.
Ketiga sahabat yang pada mulanya panik dan takut menjadi gembira lalu termenung dan berpikir tentang peluang dan kemauan masing-masing yang mungkin hanya sekali mereka jumpai dalam hidup mereka. Lalu mereka memilih kemauan mengikuti "kegemaran" masing-masing.
Berkatalah si A,"Aku mau perempuan-perempuan muda dari berbagai bangsa di seluruh dunia dan letakkan dalam sebuah gua tertutup dan jangan ganggu aku selama 10 tahun."
Pufff ........!! dengan sekejap mata jin itu menyempurnakan permintaan si A.
Berkata si B, "Aku mau semua jenis arak dari seluruh dunia untuk bekal selama sepuluh tahun dan letakkan dalam sebuah gua tertutup dan jangan ganggu aku selama 10 tahun.
" Pufff ......... !! dengan sekejap mata jin itu menyempurnakan permintaan si B.
Berkata pula si C,"Aku mau semua jenis rokok dari seluruh dunia untuk bekal selama sepuluh tahun dan letakkan dalam sebuah gua tertutup dan jangan ganggu aku selama 10 tahun.
Pufff .......... !! dengan sekejap mata jin itu menyempurnakan permintaan si C.
Setelah genap 10 tahun, maka jin tersebut muncul kembali untuk membuka pintu gua masing-masing sebagaimana yang dijanjikan, kemudian jin tersebut pergi membuka pintu gua si A, ketika dibuka maka keluarlah si A dengan keadaan kurus kering, berdiri pun tidak bisa karena tidak sanggup untuk menggerakkan lutut sebab hari-hari hanya memuaskan nafsu dengan perempuan. Tiba-tiba si A pun jatuh ketanah lalu mati!!
Setelah itu jin tersebut pergi ke gua si B, ketika pintu dibuka maka keluarlah si B dengan perut yang sangat buncit karena hari-hari mabuk-mabukan. Jalan pun terhuyung-huyung. Tiba-tiba si B pun jatuh ketanah lalu mati !!
Setelah itu jin pergi ke gua si C dan membuka pintu gua. Tiba2 si C keluar dalam keadaan SEHAT WAL'AFIAT dan terus menampar si jin, Sambil memaki si jin ia berkata: JIN GOBLOOOKK ....!!!! KOREKNYA MANA ...???!!!

Jumat, 22 April 2011

Indonesia, Surga Industri Rokok

Indonesia, Surga Industri Rokok

Ketika negara lain berlomba untuk menertibkan rokok, Indonesia justru membebaskan sepak terjang industri rokok.
Ini terlihat dari berbagai langkah yang diambil pemerintah pusat terkait rokok. Salah satu yang paling mencolok adalah keputusan pemerintah Indonesia yang belum mau menandatangani Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) yang bertujuan mengendalikan perdagangan rokok agar tidak merugikan kesehatan masyarakat.
Padahal, seluruh negara di dunia sudah setuju akan peraturan untuk menertibkan sepak terjang industri rokok. Hanya Indonesia dan Zimbabwe yang belum setuju.
Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait berpendapat bahwa pemerintah Indonesia tunduk pada kekuatan industri rokok. Bagi Arist, pemerintah tidak punya taji melawan industri rokok.
“Buktinya, Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) yang mengatur dampak buruk rokok pun tak jelas nasibnya. Bahkan, ayat yang menyatakan tembakau sebagai zat adiktif sempat dihilangkan. Tak heran, Indonesia jadi surga bagi industri rokok,” kata Ketua Komnas Anak Arist Merdeka Sirait.
Contoh lain, penyebaran iklan dan sponsor rokok yang makin gencar merupakan bukti bahwa tidak ada tindakan tegas dari pemerintah pusat soal rokok. Bahkan iklan tersebut terus mencitrakan bahwa rokok adalah sebuah gaya hidup yang harus ditiru oleh remaja.
“Malah ada sebuah acara yang membagikan rokok pada pelajar SMP. Itu melanggar hak anak yang telah disetujui oleh PBB dalam konvensi anak sedunia,” kata pemerhati masalah anak Seto Mulyadi atau yang kerap dipanggil Kak Seto.
Indonesia kini tengah menjadi perbincangan hangat di dunia internasional terkait kasus AR, balita berusia dua tahun yang sanggup menghabiskan 40 batang rokok perhari. Bahkan berbagai badan dunia telah menganggap Indonesia melanggar hak anak.
“Mungkin pemerintah menganggap sorotan dunia internasional terhadap kasus AR adalah hal yang biasa dan tak perlu tanggapan khusus. Indonesia adalah negara yang kejam terhadap perlindungan hak anak, tapi lahan basah bagi industri rokok,” ucap Kak Seto. (mic)

Kamis, 21 April 2011

Zivanna Lethisa Tak Mau Menghakimi Perokok

image
Zivanna Letisha Siregar dan Miss Universe 2009, Stefania Fernandez (kiri)/ Kompas.Com
 
Menjadi duta Yayasan Jantung Indonesia dan salah satu penganut gaya hidup sehat dan bebas rokok tak lantas membuat Putri Indonesia 2008 Zivanna Letisha Siregar mudah menghakimi yang kurang peduli kesehatan jantung.
"Aku memang menyadari bahwa masih banyak orang khususnya remaja Indonesia yang masih kurang peduli pada kesehatan, khususnya kesehatan organ jantung. Buktinya semakin banyak saja anak muda yang merokok, termasuk beberapa teman-temanku" jelas Zivanna ketika ditemui dalam sebuah acara peduli jantung sehat.

Zizi panggilan akrabnya memang memilih untuk memberi contoh dalam hal bersikap kepada orang-orang di sekelilingnya.
"Aku rasa bila aku menegur mereka, misalnya teman-temanku yang merokok secara langsung efek peringatannya malah tak akan efektif. Sehingga aku lebih memilih memberi mereka contoh langsung dari caraku bersikap sehari-hari" tutur dara kelahiran Jakarta, 16 Februari 1989 ini.

Memberi tahu langsung tentang bahaya merokok bagi kesehatan tubuh pada perokok aktif dirasa Zizi terlalu menghakimi dan membuat orang tersebut menjadi tak nyaman. Sehingga bila memang ingin mengingatkan temannya Zizi lebih senang memberikan sebuah perumpamaan atau cerita.

"Misalnya sedang santai dan dia merokok, aku mulai pendekatan untuk mengingatkan dia dengan bercerita tentang kisah orang yang paru-parunya berlubang karena merokok misalnya atau bisa juga menceritakan kisah kerabatku yang terkena serangan jantung tiba-tiba karena menjadi perokok aktif." jelas juara Elite Model Look Indonesia tahun 2006 ini.
Cara seperti ini menurutnya lebih tepat untuk mengingatkan mereka. "Sehingga mereka bisa mengambil sikap sendiri setelah aku bercerita dan aku pun tak terlihat seperti menghakimi" ujarnya mengakhiri pembicaraan. (fen)

Rabu, 20 April 2011

Silakan pilih : Matikan rokok atau...???

Rokok Bunuh 13.500 Orang Tiap Hari

image
Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan dr Azimal mengatakan konsumsi rokok kini telah menjadi masalah global dan nasional, 80 persen terjadi di negara berkembang, sementara Indonesia menduduki peringkat ketiga setelah Cina dan India.
"Kami perkirakan 50 juta penduduk Indonesia merokok dengan rata-rata rokok yang dihisap per hari sebanyak 20 batang per orang," katanya di Denpasar, Senin.
     
Pada sosialisasi Rancangan Peraturan Daerah tentang Kawasan Tidak Merokok (KTM) itu, ia mengatakan, akibat kondisi tersebut banyak penduduk Indonesia berpotensi terserang berbagai penyakit tidak menular akibat rokok seperti jantung, tumor, kanker dan sebagainya.

Ia mengatakan, rokok bahkan telah dilaporkan membunuh 13.500 orang per hari di seluruh dunia atau satu orang setiap detik.

Selain itu, kata dia, lebih dari 200 ribu orang meninggal setiap tahun akibat penyakit yang berhubungan dengan rokok.
    
"Bahkan yang paling parah lagi sebanyak 43 juta anak-anak terpapar asap rokok (secondhand smoke)," katanya.

Dikatakan, merokok juga merupakan salah satu penyebab kemiskinan. Sinyalemen ini didukung hasil survei yang mendapatkan bahwa pengeluaran rumah tangga untuk rokok di Indonesia mencapai 11,5 persen dari penghasilan perokok.
    
Azimal mengatakan,  pengeluaran ini melebihi pengeluaran untuk makanan 11 persen, pendidikan tiga persen, dan kesehatan 2,3 persen.
     
Gubernur Bali Made Mangku Pastika dalam sambutan tertulis dibacakan Asisten Pemerintahan Setda Provinsi Bali IGM Sunendra mengatakan, rokok dengan kandungan ribuan zat mematikan, sehingga menjadi faktor utama penyebab kematian.
    
Ia mengatakan, berbagai penelitian menunjukkan ada hubungan kausal antara konsumsi rokok dengan timbulnya berbagai penyakit, dimana rokok membahayakan kesehatan individu (perokok aktif) dan masyarakat lingkungannya (perokok pasif).
    
"Seringkali kita mendengar alasan perokok, bahwa merokok adalah hak asasi. Namun bila dikaji lebih mendalam ternyata justru kebalikannya, hak orang menikmati udara sehat itulah hak asasi yang sesungguhnya," katanya.
    
Ia mengatakan, sejalan dengan itu, penetapan KTR merupakan kewajiban pemerintah daerah untuk melindungi hak warga masyarakat dan generasi muda, atas kesehatan diri dan lingkungannya.
    
"Komitmen bersama seperti itu harus dibangun untuk mewujudkan KTR, sebagai bagian dari program pembangunan menuju Bali Mandara yang terintegrasi," katanya.
    
Gubernur Mangku Pastika mengatakan, Raperda KTR ini merupakan tindak lanjut dari amanat pasal 115 UU 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang mewajibkan Pemerintah Daerah menetapkan KTR yang bertujuan menciptakan ruangan, kawasan dan area yang sehat dan bersih dari asap rokok.
    
Selain itu, kata gubernur, mampu meningkatkan derajat kesehatan melalui pengetahuan, pemahaman, kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat Bali untuk senantiasa membiasakan hidup sehat.
      
Ia juga menyebutkan, ruang lingkup KTR meliputi fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja, kawasan pariwisata, tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan.
    
Dikatakan, tujuan sosialisasi ini adalah untuk menggali atau  mendapatkan masukan dari para peserta sehingga setelah Ranperda ini ditetapkan menjadi Perda, tidak terjadi permasalahan di masyarakat.
    
Acara tersebut juga dihadiri Ketua Komisi III DPRD Bali Putu Agus Suradnyana, Kepala Dinas Kesehatan Bali dr Nyoman Sutedja, Tim Ahli Pemprov Bali, utusan Pemkab/Pemkot serta utusan DPRD Kabupaten/kota se-Bali. (abd)

Buat para Orang Tua

Rokok, Pintu Masuk Anak Menuju Narkoba

image
Walikota Pontianak Sutarmidji menyatakan, rokok sebagai pintu masuk anak-anak muda sekarang terperangkap menggunakan narkotika atau obat-obatan terlarang sejenisnya.
"Hampir 90 persen penyebab anak-anak muda yang terperangkap menggunakan narkotika karena kecanduan rokok, kemudian meningkat menggunakan barang haram tersebut," kata Sutarmidji seusai membuka penyuluhan bahaya narkotika kepada guru Bimbingan Konseling Sekolah Dasar di Pontianak, Kamis.

Dalam kesempatan itu, Sutarmidji mengajak, para guru BK dan semua elemen masyarakat untuk memutus mata rantai penggunaan barang haram itu mulai dari anak-anak.

"Caranya hindari atau awasi betul agar anak-anak tidak merokok dan bergaul bebas tanpa sepengatahuan orangtua," ujarnya.

Menurut dia, orangtua juga harus mengawasi prilaku anak-anaknya. Perubahan yang cukup drastis bagi anak perlu diwaspadai, karena bisa saja perubahan itu dipengaruhi penggunaan narkotika.

Pelaksana Harian Badan Narkotika Kota Pontianak Muhammad Ali menyatakan, pihaknya kini melakukan sosialisasi bahaya narkotika mulai dari SD dengan cara mencetak buku komik yang berisi himbauan atau cerita bahaya menggunakan barang itu dengan bentuk kartun.

"Mudah-mudahan dengan cara itu, anak-anak SD bisa memahaminya dan mengetahui kalau narkotika dan sejenisnya berbahaya bagi kesehatan," ujarnya.

Program tersebut dilakukan mulai tahun 2010, dengan menyebarkan komik tersebut ke perpustakaan milik sekolah-sekolah yang ada di Kota Pontianak, katanya.

Secara terpisah, Kepala Bidang Humas Polda Kalbar Ajun Komisaris Besar (Pol) Suhadi Siswo Wibowo menyatakan, Provinsi Kalbar termasuk daerah segi tiga emas peredaran narkoba internasional.

"Kalbar hanya termasuk daerah transit pengiriman narkoba internasional dari perairan, seperti ke Laos dan India," kata Suhadi.

Dari data BNN tahun 2006 hingga 2007, Provinsi Kalbar masuk 10 besar peredaran narkoba di Indonesia, dan Kota Pontianak, masuk dalam lima besar jumlah pengguna narkoba dari kalangan remaja.

Data Puslitkes Universitas Indonesia tahun 2006 hingga 2007, dari 3,2 juta pengguna narkoba di Indonesia, 1,1 juta diantaranya adalah pelajar dan Mahasiswa. Dari 1,1 juta pengguna narkoba dari kalangan pelajar dan mahasiswa, 40 persen diantaranya pelajar SLTP, 35 persen pelajar SLTA, dan 25 persen mahasiswa. (abd)

Kapan INDONESIA menyusul ????????

Australia Akan Buat UU Antirokok Paling Keras di Dunia

image
Pemerintah Australia mengumumkan rencananya membuat hukum anti-rokok paling keras di dunia dengan salah satunya memaksa perusahaan rokok besar menggunakan bungkus warna hijau polos buat produknya, alih-alih ancaman gugatan hukum industri.
Menteri Kesehatan dan Menua Nicola Roxon pada Kamis menyebutkan bahwa bila rancangan undang-undang itu, yang sebentar lagi masuk parlemen, diloloskan, maka ribuan kematian akibat rokok, yang tiap tahun menyedot 31,5 miliar dolar Australia (1 dolar Australia Rp 8.900) akan terkurangi.

"Peraturan kemasan rokok yang polos hijau ini adalah pertama kalinya di dunia dan menimbulkan pesan yang tegas bahwa sisi glamor sudah hilang. Kemasan rokok kini akan hanya menampilkan kematian dan penyakit yang ditimbulkan oleh aktivitas merokok," kata Roxon kepada wartawan.

Meskipun angka merokok menurun, pasar tembakau di Australia meraup 9.98 miliar dolar Australia dalam 2009, naik dari tahun sebelumnya yang hanya 8,3 miliar dolar. Sekitar 22 juta putung rokok terjual di Australia setiap tahunnya.

Otoritas kesehatan Australia menyebutkan bahwa penyakit akibat rokok menimbulkan kematian sebanyak 15.000 tiap tahunnya, dan merokok adalah penyebab penyakit dan kematian yang bisa dikendalikan untuk dicegah.

Sementara itu pihak oposisi konservatif belum menentukan sikap antara mendukung atau menolak rancangan hukum itu, artinya pemerintah minoritas Partai Buruh harus meyakinkan para independen dan Partai Hijau untuk mulai menyokong rancangan hukum tersebut.
   
"Pemerintah bisa-bisa menghabiskan jutaan dolar uang para pembayar pajak untuk membayar biaya legal demi mempertahankan keputusan mereka. Belum lagi bila didenda membayar miliaran dolar kepada industri tembakau karena sudah melanggar properti intelektual mereka," kata jurubicara BATA Scott McIntyre dalam pernyataan tertulisnya.

New Zealand, Kanada, Uni Eropa, dan Inggris tengah mempertimbangkan penerapan hukum yang serupa dan mereka memantau ketat perkembangan di Australia.

Para pengamat berpendapat aturan hukum baru yang tengah diujicobakan di Australia dan negara-negara lain bisa menyebar ke pasar-pasar berkembang lainnya seperti di Brasil, Rusia, dan Indonesia sehingga pertumbuhan industri rokok akan tertekan.

Roxon juga menyebutkan bahwa perundangan yang baru akan membatasi logo-logo industri rokok, pencitraan merek, warna, dan teks iklan yang muncul di kemasan rokok, dengan hanya memperbolehkan gambar-gambar yang mengerikan dipajang di merek dagang dan nama produk dengan teks dan warna yang standar.
   
Kemasan warna hijau buah zaitun akan dijadikan warna kemasan rokok sebab berdasarkan penelitian warna tersebut akan membuat para perokok tidak terlalu tertarik terhadap rokok.

Pemerintah Australia juga berencana menerapkan hukum anti-rokok mulai awal 2012, dengan semua produk rokok sudah harus mulai patuhi ketentuan baru enam bulan kemudian.

"Selain itu, peringatan gangguan kesehatan akan diperbaharui dan meningkat dari 30 ke 75 persen di bagian depan kemasan rokok, dan 90 persen untuk bagian belakang," kata Roxon.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam Konvensi Pengendalian Tembakau menyarankan kepada otoritas terkait untuk "mempertimbangkan penerapan aturan main yang lebih ketat atau bila perlu melarang penggunaan logo, warna, pencitraan merek atau informasi berupa promosi".

Australia telah memiliki aturan yang keras terkait dengan iklan tembakau, yang telah menekan angka merokok dari 30,5 persen populasi di usia lebih dari 14 tahun pada tahun 1988 menjadi 16,6 persen di tahun 2007.

Roxon sendiri bertarget menurunkan angka merokok di Australia agar berada di bawah 10 persen pada tahun 2018. (abd)

BELIEVE IT OR NOT

Akibat Rokok, 100 Juta Orang Meninggal di Dunia

  image

Sebanyak 100 juta orang meninggal dunia akibat merokok tembakau pada abad ke-20, dan diperkirakan akan mencapai satu miliar orang pada abad ke-21, kata pakar kesehatan dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Agus Widyatmoko.
"Penggunaan tembakau juga menjadi faktor risiko bagi beberapa penyebab kematian di dunia, di antaranya penyakit jantung dan stroke," katanya pada pelatihan konseling berhenti merokok di Asri Medical Center (AMC) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Selasa.

Menurut dia, angka kejadian orang yang meninggal dunia akibat serangan jantung di Indonesia saat ini cenderung meningkat. Hal itu justru terbalik dengan keadaan di Amerika Serikat (AS) yang mengalami penurunan.

"Di negara maju, kesadaran orang mengenai pentingnya menjauhi rokok telah meningkat, termasuk dengan proteksi yang dilakukan pemerintah, sehingga kematian akibat penggunaan tembakau di negara maju, seperti AS telah menurun hingga sembilan persen," katanya.

Sebaliknya, kematian akibat tembakau di negara berkembang justru meningkat hingga dua kali lipat, dari 3,4 juta jiwa orang menjadi 6,8 juta orang.

Ia mengatakan data yang dirilis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2008 juga menunjukkan bahwa penyakit kardiovaskuler atau jantung telah menyebabkan 26,8 juta pria, dan 31,5 juta perempuan meninggal dunia.

Di negara berkembang, penyakit jantung iskemik menjadi penyebab kematian kedua dengan angka 9,4 persen, sedangkan penyakit serebrovaskuler atau lebih dikenal dengan stroke menempati peringkat kelima penyebab kematian seseorang dengan angka 5,65 persen.

"Perokok pasif mengalami risiko penyakit jantung koroner sebanyak 25-30 persen jika terpapar asap rokok," kata dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UMY ini.

Berdasarkan kenyataan tersebut, menurut dia, tanpa kesadaran masyarakat untuk berkomitmen menjauhkan diri dari tembakau, aktivitas merokok akan menyumbangkan 10 persen dari kematian global.

"Oleh karena itu, berhenti merokok merupakan alternatif terbaik dan termurah daripada mengobati penyakit yang diakibatkan aktivitas merokok," katanya. (abd) 
http://sehatnews.com/berita/6741

 

 

Sabtu, 09 April 2011

Berusaha Sehat Meski Merokok

Editor: Asep Candra
Sabtu, 9 April 2011 | 21:41 WIB

KOMPAS.com - Memang tidak mudah menghilangkan atau menghentikan kebiasaan merokok. Namun, yang lebih susah adalah bagaimana tetap sehat dalam kondisi terpaksa harus merokok.
Berikut saran DR. Dr. Budhi Setianto, Sp.JP(K), konselor Klinik Berhenti Merokok Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta, agar Anda tetap sehat :
* Biasakan berolahraga atau memulai program/hobi dengan keluarga/teman-teman yang bukan perokok.
Buatlah acara ini secara teratur. Olahraga tidak hanya penting bagi mereka yang ingin hidup sehat, tapi juga bagi perokok. Luangkan waktu kurang lebih 30 menit sehari untuk memberikan tubuh mendapat oksigen secukupnya. Jangan merokok selama berolahraga karena hal ini akan memupuskan segala manfaatnya.
* Jangan merokok sambil minum kopi.
Meski dipercaya dapat menambah kenikmatan, kandungan kafein dalam kopi dapat meningkatkan kadar CO2 dalam paru-paru. Sebagai ganti, pilih minuman yang dapat menetralisasi racun yang dibawa oleh rokok seperti jus buah segar atau susu.
* Ganti rokok dengan makanan ringan sebagai cuci mulut.
* Ganti kebiasaan merokok saat buang hajat dengan membaca buku, komik, koran, atau tabloid. Kegiatan membaca jauh lebih bermanfaat untuk menambah ilmu maupun sekadar sebagai rileksasi.
* Cobalah berpikir sesaat sebelum menyalakan rokok, tentang bagaimana hidup ini terasa lebih indah tanpa rokok.
* Kalau hingga kini Anda terpaksa harus merokok, cobalah untuk memikirkan kehidupan yang sebenarnya jauh lebih baik tanpa rokok.
Alasan yang selalu dikemukakan adalah rokok dapat mengurangi kecemasan, meningkatnya konsentrasi, memberi rasa lebih tenang dan lebih rileks. Kenyataannya, efek positif itu hanya terasa sesaat dan selanjutnya timbul ketergantungan yang akan berdampak luas. Cobalah mencari alternatif seperti mendengarkan musik lewat earphone atau mengunyah permen karet. @
Sumber :
Tabloid Gaya Hidup Sehat

Obama Akhirnya Berhenti Merokok

Editor: Egidius Patnistik
Rabu, 9 Februari 2011 | 09:47 WIB
AFP
Presiden AS Barack Obama melambaikan tangan untuk membalas sambutan tepuk tangan dari sejumlah anggota parlemen dalam pidato kenegaraan State of the Union di US Capitol, Washington, DC., 25 Januari 2011
 
WASHINGTON, KOMPAS.com — Presiden AS Barack Obama akhirnya bisa mengakhiri kecanduannya pada rokok. Istrinya, Michelle, menyatakan sangat bangga bahwa mantan "panglima pengisap asap" itu dapat memandang mata anak-anaknya dan berkata ia tak lagi merokok.
Perjuangan Obama untuk mengalahkan kecanduannya telah menjadi pusat perhatian yang sangat besar buat pers AS selama kampanye kelilingnya tahun 2008 dan dalam dua tahun pertama masa jabatannya.
Namun, Ibu Negara Michelle Obama, Selasa (8/2), mengatakan kepada wartawan bahwa Obama sudah tak mengepulkan asap selama satu tahun terakhir. Michelle mengatakan, ia "sangat bangga" Obama telah berhasil dalam mengalahkah apa yang telah menjadi "tantangan pribadi buat dia", demikian laporan USA Today.
"Ketika seseorang melakukan tindakan yang benar, jangan mengacaukannya," kata Michelle Obama sebagaimana dikutip USA Today. Ia menambahkan, Obama akhirnya berhenti merokok sebab ia mau memberitahu putri-putrinya, Malia dan Sasha, bahwa ia tak merokok lagi.
Ibu Negara Amerika Serikat itu berbicara kepada wartawan untuk menandai peringatan kampanye "Let’s Move" guna mengakhiri kegemukan pada anak-anak.
Obama telah didesak dokternya pada Februari tahun lalu agar berhenti merokok demi kebaikannya setelah pemeriksaan kesehatan pertamanya sebagai presiden. Pada pemeriksaan itu, Obama dinyatakan "memiliki kesehatan yang sangat bagus" dan "cocok untuk mengemban tugas", tetapi dokternya mendesak dia untuk berhenti merokok.
Juru Bicara Gedung Putih Robert Gibbs mengatakan, beberapa pembantu dekat Obama telah bergabung dengan presiden tersebut dalam upaya untuk berhenti merokok. Gibbs menambahkan, dirinya yakin pengaruh Ibu Negara telah membantu. "Saya pikir ketika seseorang memutuskan untuk berhenti merokok ... mereka melakukannya bukan sekadar karena mereka mau, tetapi karena orang lain juga mau mereka melakukannya," kata Gibbs.
Sumber :
ANT, AFP

Mengapa Diabetesi Dilarang Merokok?

Penulis: Lusia Kus Anna | Editor: Lusia Kus Anna
Selasa, 29 Maret 2011 | 15:01 WIB


Kompas.com - Merokok memang merugikan kesehatan semua orang. Tapi untuk para penderita diabetes (diabetesi), menghisap tembakau akan memperburuk komplikasi penyakit.
Pasien diabetes yang nekat terus merokok memiliki tekanan darah lebih tinggi sehingga mereka lebih sulit mengendalikan penyakitnya. Diabetesi perokok juga beresiko lebih besar menderita komplikasi seperti kebutaan, gangguan saraf, gagal ginjal dan gangguan jantung.
Profesor kimia dari California State Polytechnic University, Xiao-Chuan Liu, baru-baru ini mempublikasikan risetnya mengenai efek nikotin pada pasien diabetes. Ia meneliti contoh darah para perokok diabetes. Ia menemukan ketika nikotin bercampur dalam contoh darah, kadar hemoglobin A1c akan naik sampai 34 persen.
Hemoglobin A1c, kombinasi hemoglobin dan glukosa, merupakan indikator standar dari konten gula darah dalam tubuh. Makin tinggi kadar A1c dalam darah, makin besar pula kemungkinan protein terbentuk di jaringan tubuh, mulai dari darah, jantung atau pembuluh darah, sehingga sirkulasinya terhambat.
"Sebelumnya dokter hanya tahu bahwa merokok akan memperburuk penyakit diabetes. Tapi kini kita tahu sebabnya adalah karena nikotin. Hasil studi ini juga menunjukkan bahwa jika Anda perokok, meski tidak menderita diabetes, namun risiko untuk sakit diabetes sangat tinggi," katanya.
Ia menambahkan, penggunaan produk pengganti nikotin seperti rokok elektronik atau koyo nikotin tetap tidak aman karena masih mengandung nikotin.
Sumber :

Asap Rokok Bikin Bayi Lahir Prematur

Penulis: Nadia Felicia | Editor: Nadia Felicia
Senin, 14 Maret 2011 | 18:24 WIB

Konon, penciuman ibu hamil meningkat ketimbang saat tidak hamil sebagai mekanisme melindungi tubuhnya dari zat-zat berbahaya. 
 
KOMPAS.com — Kita semua tahu bahwa rokok bisa membahayakan kandungan ibu hamil. Pada bungkus rokok saja sudah tertulis dapat mengakibatkan gangguan kehamilan dan janin. Tetapi ternyata tak hanya ibu hamil yang merokok saja, tetapi perokok pasif alias yang terpapar asap rokok dari orang lain pun bisa mengalami masalah pada kandungannya. Riset UK Center for Tobacco Control Studies di University of Nottingham menyimpulkan bahwa ibu hamil yang terkena paparan asap rokok dari orang lain (perokok pasif) memiliki risiko bayinya lahir prematur atau terlahir dengan masalah kesehatan.

Anak yang terlahir dari wanita yang merokok selama kehamilan memiliki peningkatan risiko bayi terlahir dalam keadaan tidak bernyawa, berat badan lahir kurang, dan masalah kesehatan lainnya.

Kerap ditemukan, ibu hamil yang menjadi perokok pasif mengalami masalah pada berat badan lahir si bayi, tapi belum jelas apakah paparan asap rokok selama kehamilan bisa memengaruhi masalah kelahiran bayi pada wanita yang tidak merokok.

University of Nottingham di Inggris menganalisis 19 studi hubungan antara wanita hamil nonperokok tetapi sering terkena paparan asap rokok selama kehamilan. Datanya menunjukkan peningkatan risiko bayi lahir dalam keadaan tak bernyawa sebanyak 23 persen dan 13 persen peningkatan masalah pada kelahiran bayi.

Analisis yang muncul pada jurnal Pediatrics edisi April 2011 ini tak menemukan hubungan antara perokok pasif dan keguguran sebelum usia kandungan mencapai 20 minggu aau kematian bayi dekat dengan waktu kelahiran.

"Namun, saat ini kita bisa katakan dari analisa ini bahwa ibu hamil yang menjadi perokok pasif memiliki peningkatan risiko keguguran dan melahirkan bayi dengan masalah malformasi kongenital. Hasil penelitian ini mengkonfirmasi pentingnya ibu hamil untuk menjauhi asap rokok selama kehamilan baik di rumah maupun di tempat umum," jelas salah seorang peneliti, Jo Leonardi-Bee, PhD, seperti dikutip dari WebMD.

Menurut Leonardi-Bee, rumah masih menjadi sumber terutama asal paparan asap rokok para wanita bukan perokok. Meski sekarang aturan-aturan pelarangan merokok di tempat umum sudah banyak dicanangkan, namun tak ada larangan merokok di kawasan tempat tinggal, sehingga tempat tinggal masih menjadi lokasi terutama terkena paparan asap rokok.

Menurut Jonathan P Winickoff, MD, dari Harvard Medical School, berhenti merokok adalah salah satu hal yang paling bisa dilakukan untuk mencegah bayi lahir dengan berat badan kurang dan masuknya bayi ke dalam neonatal intensive care (NICU), alias ruang isolasi bayi yang lahir terlalu cepat.

Secara kasar, menurut Winickoff, 1 dari 5 bayi dalam NICU ada karena masalah paparan asap rokok saat dalam kandungan. Studi menggambarkan bahwa perokok pasif saat ini menjadi kekhawatiran yang sama seperti ibu hamil perokok.
Sumber :

Orangtua yang Merokok Picu Hipertensi pada Bayi

Penulis: Nadia Felicia | Editor: Nadia Felicia
Sabtu, 26 Februari 2011 | 10:29 WIB
Orangtua merokok menjadikan anak sebagai perokok pasif. Anak bisa mengalami masalah tekanan darah tinggi begitu anak mencapai usia masuk sekolah.


KOMPAS.com — Orangtua yang merokok bisa membuat bayinya terkena tekanan darah tinggi begitu si anak mencapai usia masuk sekolah, begitu laporan dari American Heart Association's Journal Circultation.

Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di Jerman ini mengamati rekaman kesehatan keluarga dari 4.000 anak TK di Jerman dengan rata-rata usia 5,7 tahun. Dibandingkan dengan rumah yang bebas dari asap rokok, anak-anak yang memiliki setidaknya 1 orangtua yang merokok ternyata memiliki kecenderungan 21 persen tekanan darah lebih tinggi meski sudah dihitung dengan rata-rata berat badan lahir, indeks massa tubuh, dan anggota keluarga yang juga punya hipertensi.

Menurut pimpinan penelitian, dr Giacomo D Simonetti, perokok pasif meningkatkan risiko peningkatan darah tinggi hingga garis akhir dari batas normal, dan sebagian dari anak-anak ini sudah memiliki tekanan darah yang tinggi.

Dalam studi, ibu yang merokok memiliki dampak yang jauh lebih besar pada bayi ketimbang kebiasaan merokok sang ayah, spekulasinya, karena sang ibu lebih sering bersama si anak. Mengalami tekanan darah yang tinggi bisa mengakibatkan masalah kesehatan kardiovaskular di masa dewasa anak.

Studi lain menunjukkan bahwa anak yang menjadi perokok pasif juga akan mengalami masalah asma hingga infeksi telinga. Solusi terjelasnya hanya memastikan setiap orang yang dekat dengan bayi harus berhenti merokok. Asap yang menempel pada tubuh perokok dan keringat yang keluar dari orang merokok juga bisa berisiko pada bayi.

Simonetti mengungkap, tekanan darah anak-anak akan terus memengaruhi kesehatan anak hingga ia dewasa. Menghindari segala faktor risiko pada anak secepatnya akan membantu mengurangi risiko anak mengalami masalah penyakit jantung di masa depan dan membantu menjaga kesehatan si anak.
Sumber :

Perokok Pasif Paling Dirugikan

Penulis: Laras Pratiwi | Editor: Asep Candra


JAKARTA, KOMPAS.com - Berdekatkan dengan orang yang sedang menghisap rokok memang sangat membahayakan.  Pasalnya, asap yang terhirup oleh perokok pasif memberi dampak dan risiko kesehatan yang jauh lebih besar.
Seperti diungkapkan pengamat masalah kesehatan, Kartono Mohamad, para perokok pasif kerap menghisap asap rokok yang tidak tersaring. Asap rokok ini berasal dari sekitar 85 persen asap dalam ruangan yang biasanya merupakan asap samping (sidestream smoke) dari ujung rokok yang membara.
Asap yang terhirup perokok pasif inilah yang menjadi ancaman mematikan. Asap ini mengandung 50 kali jumlah bahan kimia penyebab kanker yang dihisap  perokok aktif.
"Perokok pasif mempunyai dampak buruk yang lebih besar daripada perokok aktif. Asap rokok itu cepat kerjanya. Dalam 15 menit langsung masuk ke DNA dan beberapa detik sudah mempengaruhi kerja otak. Sayangnya, hal ini terjadi pada perokok pasif," kata pengamat masalah kesehatan, Kartono Mohamad, yang menjadi pembicara pada Kosultasi Publik Raperda Kawasan Tanpa Rokok, Jakarta, Senin (24/1/2011).
Mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) itu juga memaparkan, asap tembakau mengandung lebih dari 4.000 bahan kimia. Banyak di antaranya beracun dan beberapa bersifat radioaktif.
Lebih dari 40 diketahui menyebabkan kanker. Bahan kimia ini terutama terkonsentrasi di dalam tar (penyebab iritasi paru dan penyebab kanker), nikotin (menimbulkan adiksi) dan karbon monoksida (mengikat oksigen sehingga tubuh kekurangam oksigen). Beberapa bahan kimia merusak pembuluh darah dan lainnya menyebabkan kanker.
"Rokok itu bersifat adiktif, orang yang ketagihan rokok itu seperti ketagihan morfin, bedanya rokok lebih murah dan mudah didapat. Persoalannya adalah para perokok pasif ini tidak peka terhadap orang-orang disekitarnya," papar Kartono.
Kartono juga memaparkan bahwa residu nikotin yang menempel di karpet atau dinding hampir mustahil di hilangkan atau bersihkan. Karpet tiap hari menyerap uap nikotin selama bertahun-tahun sehingga tidak dapat dibersihkan.
Anak-anak terancam
Hal inilah yang menjadi dasar larangan merokok di dalam ruangan. Merokok di luar ruangan lebih baik, walau residu nikotin akan tetap melekat di baju dan kulit yang terkena asap rokok. Kalau orang yang terkena residu nikotin tersebut masuk kembali ke dalam ruangan, residu itu dapat menyebar. Yang paling terancam dari hal tersebut adalah anak-anak.
Penelitian World Bank mengatakan, dengan pola merokok seperti saat ini, 500 juta orang yang hidup hari ini akhirnya akan terbunuh oleh penggunaan tembakau. Lebih dari separuh di antaranya saat ini adalah anak-anak dan remaja. Hingga tahun 2030, tembakau diperkirakan akan menjadi penyebab tunggal terbesar kematian di seluruh dunia.

Mencegah 3 Penyakit Paling Ditakuti

Penulis: Lusia Kus Anna
Jumat, 8 April 2011 | 14:28 WIB

Kompas.com - Salah satu kekhawatiran kebanyakan orang adalah sakit. Tetapi hanya sedikit orang yang mau mengubah pola hidupnya agar kekhawatirannya itu tidak terbukti. Simak saran para ahli agar penyakit menjauh dari hidup kita.
Serangan jantung
- Pola makan sehat. Hindari makanan yang bersodium tinggi (termasuk makanan siap saji) untuk menjaga tekanan darah. Hindari lemak jenuh dan lemak trans karena bisa meningkatkan kolesterol. Konsumsi lebih banyak ikan dan kacang-kacangan karena mengandung minyak sehat yang baik untuk pembuluh darah.
- Rawat gigi Anda. Penelitian menunjukkan gigi berlubang dan radang gusi bisa menjadi indikator kesehatan jantung.
- Berhenti merokok karena perokok beresiko dua kali lebih tinggi menderita penyakit jantung koroner.
Impotensi
- Lakukan tips di atas. Jika sirkulasi darah yang menuju jantung tidak lancar, demikian juga halnya sirkulasi yang menuju penis.
- Tidur yang cukup untuk meningkatkan hormon pertumbuhan yang bisa mencegah impotensi.
- Olahraga. Penelitian menunjukkan pria yang membakar minimal 200 kalori setiap hari lebih jarang mengalami disfungsi ereksi dibanding rekan mereka yang lebih malas.
Pikun
- Cobalah sesuatu yang baru, misalnya mencoba rute berangkat ke kantor yang berbeda atau mencoba belajar squash. Mengubah rutinitas bisa merangsang sambungan neuron otak untuk mencegah kepikunan.
- Turunkan kolesterol karena kolesterol memegang peran penting terbentuknya plak di otak, penanda penyakit Alzheimer.
- Konsumsi omega-3, asam lemak yang ditemukan di ikan dan kacang-kacangan.
Sumber :

Jumat, 25 Maret 2011

Mengapa Rokok Bisa Membunuh



KOMPAS.com — Sudah tak terhitung penelitian yang dilakukan untuk mengetahui dampak rokok terhadap kesehatan fisik dan emosi. Diperkirakan seperlima orang di dunia tiap tahun meninggal karena penyakti yang berkaitan dengan rokok.

Bila tidak sampai membunuh, paling tidak rokok akan mengurangi hak Anda untuk sehat lebih lama. Selain itu, rokok juga akan memperparah penyakit yang sedang Anda derita.

Penelitian menunjukkan, asap rokok mengandung sekitar 4.000 bahan kimia, termasuk bermacam-macam racun dalam takaran sangat kecil. Pada setiap isapan, racun-racun ini akan masuk melalui paru-paru, kemudian meneruskannya ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah. Sebagian racun-racun ini dikenal sebagai radikal bebas.

Riset teranyar yang dilakukan para peneliti dari National Cheng Kung University di Taiwan menunjukkan, zat karsinogenik dalam rokok yang disebut NNK menyebabkan kanker paru.

"NKK membuat akumulasi protein yang disebut DNMT1 di dalam inti sel. Selanjutnya, DNMT1 akan membuat gen berubah menjadi sel-sel tumor," kata peneliti dalam laporan yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Investigation. Para peneliti juga menemukan tingginya kadar DNMT1 pada pasien kanker paru dengan diagnosis buruk.

Sementara itu, nikotin dalam asap tembakau menyebabkan kelenjar-kelenjar adrenal memproduksi hormon yang meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung sehingga jantung Anda bekerja lebih keras. Ini salah satu alasan mengapa perokok berisiko menderita serangan jantung dan stroke.

Merokok juga mengurangi kemampuan Anda untuk tetap bugar karena menghabiskan oksigen yang diperlukan untuk menyegarkan tubuh dan otak Anda.

Sebuah studi yang dilakukan peneliti dari Inggris menemukan bahwa perokok yang tertular HIV dua kali lebih cepat mendapatkan serangan AIDS dibandingkan dengan bukan perokok.

healthdaynews
Penulis: AN                                    

Kok Pilih Rokok daripada Biayai Sekolah Anak!


Penulis: Abdi Susanto 




SURABAYA, KOMPAS.com - Konsumsi rokok diyakini sebagai salah satu indikator kemiskinan masyarakat Indonesia selama ini, akibatnya perilaku tersebut tidak hanya dapat mengurangi pendapatan, belanja bulanan keluarga, hingga berujung pada kematian.

"Saya pernah menemukan kesaksian ada seorang sopir berpenghasilan Rp50 ribu sehari dengan empat anak yang kedua anaknya tidak sekolah dengan alasan biaya. Anehnya, sopir tersebut mampu menghabiskan uang Rp24 ribu per hari untuk membeli tiga pak rokok," kata Peneliti Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Abdillah Ahsan, di Surabaya, Kamis.

Ia mengakui, hal itu memang fenomena umum yang sering ditemui diantara masyarakat miskin di Indonesia. "Meski sang kepala rumah tangga memiliki penghasilan terbatas, ia mengonsumsi rokok seperti layaknya kereta api," katanya.

Menurut dia, merokok berdampak pada berkurangnya pendapatan yang bisa dibelanjakan untuk kepentingan lain seperti makanan yang sehat dan layak, biaya sekolah, dan sebagainya.

"Semisal, seorang kepala keluarga mengonsumsi rokok satu pak seharga Rp5 ribu per hari. Padahal, uang yang terbakar melalui rokok tersebut bisa dibelikan tiga butir telur yang mengandung banyak gizi untuk makan seluruh anaknya," katanya.

Selain itu, kata dia, secara ilmiah terbukti bahwa merokok menimbulkan banyak masalah kesehatan dan meningkatkan biaya kesehatan yang jumlahnya bisa tiga kali lipat dari cukai rokok.

"Bahkan, lebih dari 70.000 penelitian di Amerika Serikat berhasil membuktikan bahaya merokok bagi kesehatan," katanya.

Melihat beragam kenyataan itu, ia berharap, pemerintah mengambil sikap tegas. Salah satunya dengan menaikkan harga cukai rokok, melarang secara total iklan rokok, dan memasang peringatan bergambar mengenai bahaya merokok.

"Sekarang, besaran cukai rokok rata-rata baru 38 persen. Padahal, dalam Pasal 5 UU Nomer 39 Tahun 2007, pemerintah boleh mematok cukai hingga 57 persen. Namun, besaran itu ternyata masih rendah dibandingkan patokan cukai luar negeri yang mencapai 65 persen," katanya.          

Kamis, 24 Maret 2011

Regulasi Rokok, ke Mana SBY Berpihak?


Penulis: Bramirus Mikail | Editor: Tri Wahono
Senin, 21 Maret 2011 | 19:41 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Rancangan peraturan pemerintah tentang rokok yang isinya dengan tegas mencantumkan pelarangan iklan, promosi, dan sponsor produk mengandung tembakau belum juga disahkan. Padahal, korban rokok sudah berjatuhan dan banyak diderita kaum marjinal.
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mencatat, berdasarkan hasil survei pada tahun 2007, sebanyak 1.127 orang meninggal setiap hari akibat rokok. Indonesia tercatat menempati peringkat ketiga dunia setelah China dan India sebagai negara dengan penduduk paling banyak mengonsumsi rokok.
"Dari 80 juta perokok aktif di Indonesia, 75 persen adalah orang miskin. Rokok menduduki skala prioritas kedua setelah beras," ujar Sudaryatmo, Pengurus Harian YLKI, kepada Kompas.com di kantornya, Senin (21/3/2011).
YLKI menilai, pemerintah dalam hal ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merupakan kunci dari segudang permasalahan yang disebabkan oleh rokok. Namun, Sudaryatmo menambahkan, bicara soal regulasi tembakau, ada dua kubu yang saling berhadapan, yakni kubu ekonomi dan kesehatan.
"Dalam konteks internasional di banyak negara, ini sudah dimenangkan kubu kesehatan. Namun dalam konteksnya di Indonesia, karena secara ekonomi rokok memberikan kontribusi, situasi ini membuat tarik-menarik antara kubu kesehatan dan kubu ekonomi," ungkapnya.
Sudaryatmo menilai Presiden lebih pro-ekonomi dibandingkan kesehatan. Hal ini menurutnya terlihat saat Presiden turut meresmikan pabrik rokok di Pacitan. "Kuncinya ada di SBY, apa dia bisa keluar dari kungkungan penjara ekonomi atau dia lebih berpikir bahaya masa depan bagi generasi yang akan datang," tutupnya.
Diketahui, sampai saat ini pemerintah dan DPR telah merampungkan pembahasan rancangan peraturan pemerintah tentang tembakau. Perundang-undangan itu telah memasuki tahap finalisasi dan sudah sampai pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk segera disahkan.          

Rabu, 23 Februari 2011

8 Anggota DPRD Temanggung Pertanyakan RPP Tembakau pada Menkes


Jakarta - 8 Anggota DPRD Temanggung mempertanyakan perkembangan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Tembakau pada Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih. Masyarakat Temanggung mayoritas menjadi petani tembakau dan apabila RPP ini disahkan, dianggap akan merugikan petani.

"Kami ingin mengetahui perkembangan RPP Tembakau sehingga dapat menginformasikan masyarakat Temanggung khususnya tentang hal tersebut," ujar anggota DPRD Temanggung Muhammad Amin di Kantor Menkes Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (8/2/2011).

Menurut Amin, pihaknya juga ingin mengawal proses RPP Tembakau ini secara sistematis. Amin khawatir apabila RPP Tembakau ditetapkan akan kurang berpihak kepada masyarakat pertembakauan.

8 Anggota DPRD itu ditemui Staf Khusus Menkes Bidang Politik dan Kebijakan Kesehatan Bambang Sulistomo.  Menurut Bambang, tidak ada niat dari pemerintah untuk menyengsarakan petani tembakau. Tapi Kemenkes harus mengurangi penyakit yang timbul dari tembakau karena biaya untuk mengatasi penyakit-penyakit akibat tembakau itu tinggi sekali.

Biaya untuk mengobati penyakit-penyakit yang timbul akibat tembakau jumlahnya 3 kali lebih besar dari pada jumlah cukai yang didapat rokok itu sendiri. Oleh karena itu, Kemenkes melakukan langkah-langkah untuk menghindari penyakit yang ditimbulkan oleh tembakau tersebut seperti kanker, serangan jantung.

"Kita tidak mau produktivitas anak muda menurun karena rokok. Banyak anak daerah kurang gizi karena bapaknya lebih memilih merokok. Kami tidak akan melarang apa-apa di dalam industri, kami hanya ingin mencegah penyakit yang timbul akibat rokok," kata Bambang.

Adi Lazuardi - detikNews
(nik/fay)

Selasa, 22 Februari 2011

INI BARU BERITA

Cuma di Honduras, Merokok di Rumah Bisa Diciduk Polisi

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Selasa, 22/02/2011 13:18 WIB
img
foto: Thinkstock
 
Tegucigalpa, Honduras, Berbagai negara di seluruh dunia makin ketat mengawasi rokok, bahkan ada yang membatasi rokok di lingkungan privat seperti rumah pribadi. Asal ada yang melaporkan, polisi tak segan-segan mendatangi rumah si perokok untuk menangkapnya.

Sebuah negara di Amerika Tengah, Honduras baru-baru ini menetapkan aturan ketat bagi perokok. Mulai Senin 21 Februari 2011, siapapun yang keberatan jika ada anggota keluarganya yang merokok boleh melapor dan polisi akan menangkap si perokok.

Peringatan lisan akan diberikan 1 kali, jika tidak digubris maka si perokok akan dijebloskan ke tahanan. Agar bisa bebas, ia harus membayar dengan US$ 311 atau sekitar Rp 2,8 juta (kurs 9.000/US$), setara dengan upah minimum dalam sebulan di negara tersebut.

Rony Portillo, direktur Institute to Prevent Alcoholism and Drug Addiction mengatakan kebijakan ini diambil untuk menekan jumlah perokok. Saat ini diperkirakan, jumlah perokok di Honduras mencapai 30 persen jumlah penduduk atau sekitar 2,5 juta.

Dampak dari asap rokok tentu tidak hanya dirasakan oleh si perokok aktif, tapi juga anggota keluarganya yang terpaksa menjadi perokok pasif di rumah. Apalagi statistik menunjukkan, 9 dari 10 penderita bronkitis akut di Honduras tinggal serumah dengan perokok aktif.

"Aturannya sekarang sudah jelas dan siapapun harus mematuhinya. Pihak berwajib tidak akan tinggal diam jika ada laporan masuk," ungkap Portillo seperti dikutip dari AFP, Selasa (22/2/2011).

Selain membatasi rokok di rumah pribadi, Honduras juga melarang warganya merokok di tempat-tempat umum termasuk restoran dan klub malam. Jika ada pengelola restoran atau klub malam yang mengizinkan pengunjungnya merokok, maka dendanya adalah US$ 1.000-3.000 atau sekitar Rp 9-27 juta.

Meski begitu, beberapa pihak meragukan aturan baru itu akan efektif dijalankan. Dengan jumlah penduduk yang lebih dari 8 juta jiwa dan tingkat kriminalitas yang tinggi, polisi Honduras yang jumlahnya hanya 12.000 personel diyakini tak akan sanggup mengurusi para perokok apalagi sampai ke rumah-rumah.
(up/ir)
Bagaimana di INDONESIA tercinta ?
 

Larangan Merokok, Masih Setengah Hati


KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
Ilustrasi stop merokok 
KOMPAS.com — Di sebuah sudut ruangan sebuah mal di kawasan Semanggi, Selasa (30/6), sejumlah orang tampak sedang bersantai. Pintu ruangan itu terbuka lebar saat tiga dari lima orang yang ada di dalam ruangan sempit itu terlihat menghisap rokok.

Asap rokoknya terbang ke mana-mana mengisi seluruh isi ruangan tadi. Mereka seakan tak peduli meski asap rokoknya ada yang keluar ruangan.

Meskipun di luar ruang smoking area, banyak sekali rambu larangan merokok, namun pengunjung mal tadi merasa "berhak". Mereka diizinkan merokok hanya di ruang smoking area. Kenyataannya, rambu-rambu larangan merokok tadi banyak yang dilanggar. Beberapa orang tampak dengan tenang dan santainya merokok di kafe yang ber-AC di mal itu.

Forum Warga Jakarta (Fakta) pernah melakukan penelitian di 60 mal di Jakarta yang menyebutkan bahwa 50 persen mal melakukan pelanggaran serius terhadap Peraturan Daerah No 2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara (Perda PPU). Demikian juga dengan hasil survei Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) di lembaga pemerintahan di Jakarta.

"Hasil survei YLKI pada 110 kantor pemerintahan di DKI Jakarta menyebutkan, pelanggaran terbanyak justru di lingkungan pegawai negeri sipil sebesar 45 persen," kata Tulus Abadi, anggota YLKI, saat berbicara di acara peluncuran buku Tembakau: Ancaman Global di Jakarta Media Center, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (30/6).

Tulus menyatakan, kawasan tanpa rokok, terutama di Jakarta yang menjadi pioner bagi daerah-daerah lainnya di Indonesia, masih menganut 'paradigma kuno' karena masih menyediakan smoking area atau smoking room di tempat kerja atau ruang publik lainnya, seperti mal. "Kenyataan di lapangan, smoking area itu justru dipakai untuk ajang promosi rokok," kata Tulus.

Tulus mengingatkan, pengelola gedung di Jakarta seharusnya bertanggung-jawab untuk menegakkan kawasan dilarang merokok (KDM) di lingkungannya masing-masing. "Saat pengelola itu tidak menjalankan tugasnya dengan baik, ada sanksi administratif yaitu pencabutan izin operasi," kata Tulus.

Walau Perda PPU sudah empat tahun dijalankan, kenyataannya masih banyak orang di Jakarta ini yang merokok sembarangan di tempat umum. Fakta mencatat, perilaku merokok di area KDM masih banyak dijumpai. Kepulan asap rokok masih menghiasi area publik. Tulus menambahkan, meski banyak orang yang merokok ditempat umum, tidak satu pun pelanggaran yang dipidanakan.

Sesuai dengan Perda PPU yang sempat menghebohkan itu, denda bagi orang yang tertangkap basah merokok ditempat umum sebesar Rp 50 juta. Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo pada peringatan World No Tobacco Day atau Hari Tanpa Tembakau Sedunia, 31 Mei 2009, menyatakan komitmen untuk menerapkan KDM di wilayah kerjanya.

"Langkah itu patut dipertanyakan atau hanya momen World No Tobacco Day saja. Untuk menegakkan peraturan tentang larangan merokok itu Gubernur DKI Jakarta masih bisa membuat Perda tentang kawasan tanpa rokok yang lebih komprehensif," jelas Tulus.
Selasa, 7 Juli 2009 | 12:24 WIB    (Warta Kota/Irwan Kintoko)

RRUUAARR BIASA

Wah... Pabrik Rokok di Indonesia Terbanyak di Dunia

 Robertus Benny Dwi K. | Editor: msh
Kamis, 14 Januari 2010 | 14:36 WIB



Sebagai negera dengan jumlah pabrik rokok terbesar, perkebunan tembakau menjadi penting, baik yang dimiliki rakyat maupun oleh perusahaan perkebunan.


DENPASAR, KOMPAS.com — Pantas kiranya jika Indonesia mendapat sebutan negeri rokok atau negeri tembakau. Selain jumlah perokok aktifnya termasuk dalam lima besar di dunia, jumlah pabrik rokok di negeri ini rupanya yang terbanyak di seantero jagat.
"Perizinan pendirian tempat produksi rokok memang relatif mudah. Kini kita punya sedikitnya 3.800 pabrik rokok, termasuk kelas rumahan. Jumlah itu terbesar di seluruh dunia," kata Direktur Cukai, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Frans Rupang di Denpasar, Kamis (14/1/2010), di sela-sela sosialisasi pita cukai baru tahun 2010 kepada segenap pemangku kepentingan tentang cukai di Bali.
Menurut Rupang, sekitar 3.000 pabrik rokok ada di dua provinsi, yakni Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dua daerah itu juga termasuk sebagai penghasil tembakau terbesar di Jawa ataupun secara nasional.
Diungkapkan Rupang, cukai dari produksi seluruh pabrik rokok berdasarkan tingkat produksi totalnya sepanjang tahun lalu mampu menghasilkan Rp 56,4 triliun sebagai penerimaan negara. Kondisi itu hanya kalah dari penerimaan yang diperoleh negara dari pajak PPN sebesar Rp 700 triliun. Jumlah itu juga jauh lebih besar daripada cukai minuman beralkohol yang besarnya Rp 1 triliun.
Menurut dia, penerimaan negara dari pita cukai rokok ataupun minuman selama ini ada yang hilang akibat pemalsuan pita cukai. Untuk menanggulangi hal itu, negara selalu memperbarui desain pita cukai setiap tahun.
Rupang optimistis cara itu akan efektif sehingga penerimaan negara dari cukai rokok ataupun minuman beralkohol akan terus meningkat. Tahun ini, target penerimaan negara dari pita cukai rokok adalah Rp 57,2 triliun.


Senin, 21 Februari 2011

Anak, Paling Banyak Jadi Korban Asap Rokok



Ilustrasi merokok 
 
Kepulan asap rokok paling membebani anak-anak. Mereka terpaksa menjadi perokok pasif. Bahkan, sejak dilahirkan—ketika terdapat orang dewasa yang merokok di sekitar mereka.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menguatkan besaran dampak asap rokok (second hand smoke) pada mereka yang tidak merokok lewat sebuah studi.
Studi yang diterbitkan akhir November 2010 itu mengambil data dari 192 negara. Guna mendapat data komprehensif dari semua negara itu, para peneliti menggunakan data tahun 2004. Mereka menggunakan model matematika untuk memperkirakan kematian dan jumlah tahun yang hilang dari para perokok pasif (perbandingan evaluasi risiko). Hasilnya, paparan asap rokok mengakibatkan
603.000 kematian prematur pada 2004. Kematian itu disebabkan penyakit jantung, infeksi saluran pernapasan bawah, asma, dan kanker paru.
Anak-anak termasuk yang terbanyak terpapar asap rokok atau menjadi perokok pasif dibandingkan kelompok umur lainnya. Hasil studi itu menemukan 40 persen anak terpapar asap rokok. Selebihnya, 33 persen laki-laki dan 35 persen perempuan tidak merokok yang terpapar asap rokok. Anak-anak umumnya terpapar asap rokok di lingkungan rumah.
Sekitar 166.000 anak di antaranya meninggal karena penyakit terkait asap rokok dan umumnya di negara miskin atau berpendapatan menengah. Sedangkan beban penyakit terbesar yang disandang perokok pasif anak di bawah usia lima tahun ialah infeksi saluran pernapasan bawah—jumlahnya 5.939.000 kasus dan asma pada anak-anak 651.000 kasus. Tak heran, karena anak masih amat rentan dan dalam proses pertumbuhan.
Para perokok pasif dewasa juga menanggung penyakit, terutama perempuan. Kematian akibat penyakit terkait asap rokok paling tinggi pada kelompok perempuan, 281.000 (47 persen) dibandingkan pada laki-laki, yakni 156.000 kasus (26 persen).
Salah seorang peneliti, yakni Dr Annete Prus-Ustun dari Departemen Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan WHO, menuliskan, paparan asap rokok umum terjadi di banyak negara. Namun, dampak dari paparan tersebut belum banyak diketahui. Dua pertiga kematian lantaran paparan asap rokok terjadi di kawasan Asia Selatan dan Afrika.
Sekitar 93 persen populasi dunia tinggal di wilayah yang masih belum menerapkan regulasi kawasan dilarang merokok.
Hanya sekitar 7,4 persen dari total penduduk dunia hidup dalam kawasan yang menerapkan larangan merokok, khususnya di area publik.
Padahal, regulasi itu dapat melindungi masyarakat umum dari bahaya asap rokok. Di tempat yang mengimplementasikan regulasi itu, paparan terhadap asap rokok di lokasi berisiko tinggi, seperti bar dan restoran, berkurang hingga 90 persen.
Secara umum di ruang publik, paparan turun hingga 60 persen berkat regulasi itu.
Pruss-Ustun mendorong agar negara-negara dapat mengendalikan konsumsi tembakau lewat berbagai strategi demi melindungi kesehatan masyarakatnya.(www.thelancet.com/ www.who.int/INE)
Jumat, 10 Desember 2010 | 06:17 WIB                                                                                                                Sumber : Kompas Cetak

7 Gejala Tak Terduga yang Diabaikan Perokok

Jangan menganggap asap rokok hanya berbahaya bagi perokok pasif. Gejala awalnya pun sudah terlihat pada diri Anda.

KOMPAS.com — Para perokok mungkin  tidak menghiraukan bahaya merokok karena merasa tidak melihat tanda-tanda bahwa asap rokok tersebut telah menimbulkan gangguan kesehatan. Gambar-gambar menyeramkan mengenai paru-paru yang menghitam atau "bolong" pada bungkus rokok bahkan tidak memengaruhi keputusan mereka untuk merokok. Dengan pongahnya mereka bilang, "Ah, pada akhirnya semua orang juga akan mati."

Anda yang merokok mungkin juga tidak menyadari apa sebenarnya risiko merokok dalam jangka pendek. Padahal, ketika Anda merasa masih bugar meskipun sudah bertahun-tahun merokok, sebenarnya tubuh Anda telah menampakkan gejala-gejala yang ditimbulkan oleh asap rokok ini. Tidak percaya? Tujuh hal di bawah ini adalah beberapa di antaranya:

1. Kulit kusam. Apabila Anda berhenti merokok, Anda akan memerhatikan salah satu perubahan positif pertama: kulit Anda akan terlihat lebih hidup dan lebih cerah. Para perawat mengatakan bahwa mereka bisa membedakan perokok dan bukan perokok hanya dari kulitnya.

2. Batuk. Ketika Anda berjalan terlalu cepat, pergi keluar saat cuaca sedang kurang baik, atau menghirup uap dari shower air panas, mendadak Anda akan merasa seperti penderita TB. Itulah yang terjadi ketika paru-paru Anda bereaksi terhadap iritasi yang berlebihan.

3. Indera penciuman dan perasa yang menurun. Perokok cenderung menjadi gemuk setelah berhenti merokok? Ternyata ini bukan sekadar mitos. Penyebabnya adalah karena semua makanan mendadak jadi terasa lezat karena Anda merasa lebih mampu mengecap rasanya.

4. Jam tidur berantakan. Menurut National Sleep Foundation (www.sleepfoundation.org), perokok lebih sering mengalami masalah tidur daripada non-perokok. Nikotin adalah stimulannya yang akan mengacaukan pola tidur Anda yang normal. Merokok sebelum tidur membuat Anda makin sulit tertidur. Ketika perokok tidur, mereka mengalami gejala yang ditimbulkan oleh nikotin, yang juga menyebabkan masalah tidur. Selain itu, nikotin juga bisa menyebabkan mimpi buruk, sulit bangun pagi, dan mengantuk pada siang hari.

5. Gampang kena flu. Sampai sekarang para peneliti tidak mampu menjelaskan mengapa perokok memiliki respons yang berlebihan terhadap infeksi virus. Namun, dari berbagai penelitian terlihat bahwa perokok lebih cenderung mengalami kematian saat terjadi epidemi influenza, dan lebih mudah terkena chronic obstructive pulmonary disease (COPD, penyakit paru-paru obstruktif kronis). Kekacauan sel kekebalan diperkirakan sebagai penyebab perokok lebih mudah masuk angin, flu, dan pneumonia ketimbang non-perokok.

6. Masalah perkawinan. Studi pada tahun 1990-an yang dilakukan oleh Eric Doherty dan William J Doherty dari University of Minnesota menemukan bahwa risiko perokok untuk bercerai meningkat 53 persen. Usia, ras, pendidikan, penghasilan, dan jender tidak memengaruhi fenomena ini. Jika perokok muda cenderung memasuki masa dewasa dengan lebih banyak masalah psikologis ketimbang non-perokok, perokok dewasa terlihat memiliki tingkat depresi dan kegelisahan yang lebih tinggi. Mereka yang merokok memiliki karakteristik dan pengalaman hidup yang bisa menyebabkan masalah dalam hubungan.

7. Lesi prakanker. Dalam mulut perokok akan tumbuh bercak bersisik warna putih yang sakit, yang bisa mengakibatkan kanker mulut.

Berhenti merokok memang tidak menyenangkan, tetapi mati akibat kanker paru-paru, atau melihat putra-putri Anda terisak-isak di sisi tempat tidur Anda di rumah sakit tentu lebih menyedihkan.
Senin, 22 November 2010 | 14:17 WIB
Sumber : Shine

Minggu, 13 Februari 2011

China Batasi Adegan Merokok di Film dan TV

Nurul Hidayati - detikNews

Beijing - Ada banyak cara untuk mengurangi perokok, seperti yang dilakukan oleh China. Negeri itu membatasi adegan merokok di setiap tayangan film dan serial televisi, menyusul kekhawatiran atas kegagalan menolong 300 juta warganya berhenti merokok.

Badan Pemerintah tentang Radio, Film dan Televisi (SARFT) sebagai pengawas media China memerintahkan "kontrol ketat" atas adegan merokok dan melarang anak-anak hadir di adegan yang melibatkan seseorang sedang merokok.

Merek sigaret juga dilarang muncul di film dan serial televisi dan adegan merokok harus sesingkat mungkin. Demikian dilansir AFP, Minggu (13/2/2011). Lembaga sensor dan penyiaran juga diminta rajin menggunting adegan merokok.

Kantor berita resmi China, Xinhua, melaporkan, survei yang melibatkan 11 ribu siswa sekolah menengah di Beijing menunjukkan, nyaris 35% responden ingin mencoba merokok setelah melihat para pemain merokok di televisi.

Tembakau adalah pembunuh utama di China -- negeri yang menjadi produsen dan konsumen terbesar tembakau di dunia -- dan dampak merokok serta paparan asap rokok memakan biaya medis dan sosial yang tinggi.

Bulan lalu, ahli medis China dan asing mengeluarkan laporan gabungan yang memperingatkan bahwa kematian akibat merokok di negeri itu akan berlipat tiga kali pada 2030.

Laporan itu menyatakan, lebih dari 3,5 juta warga China bisa meninggal akibat penyakit yang berkaitan dengan rokok setiap tahun pada 2030, atau meningkat dari 1,2 juta pada 2005, bila langkah yang tegas tidak diambil.

Cina menjadi peserta Kerangka Konvensi Pengendalian Dampak Tembakau (FCTC) WHO lima tahun lalu. Para ahli mengatakan pemerintah China tertinggal dalam pelaksanaan persyaratan FCTC, termasuk larangan merokok dalam ruangan sehingga orang bebas untuk merokok di restoran dan perkantoran.

FCTC adalah konvensi atau treaty yaitu bentuk hukum internasional dalam mengendalikan masalah tembakau/rokok yang mempunyai kekuatan mengikat secara hukum bagi negara-negara yang meratifikasinya. Di dalam negeri, Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia Pasifik yang belum meratifikasi konvensi ini. Kementerian Kesehatan yang berniat menekennya harus berhadapan dengan kementerian lainnya sehingga langkahnya terganjal.
(nrl/vit)

Selasa, 08 Februari 2011

Kematian Perokok Pasif Meningkat


Kebiasaan merokok kelak juga akan menular pada anak-anak Anda. 
 
KOMPAS.com - Studi pertama mengenai pengaruh perokok pasif berhasil menemukan fakta bahwa menghirup asap rokok orang lain telah menyebabkan 600.000 kematian setiap tahun, sekitar satu dari 100 di seluruh dunia.
Sepertiga dari korban yang meninggal akibat asap rokok ini adalah anak-anak, yang sering terpapar asap rokok di rumah, demikian hasil penemuan World Health Organization (WHO) setelah melakukan penelitian di 192 negara. Armando Peruga, dari WHO's Tobacco-Free Initiative yang memimpin studi ini, berpendapat bahwa fakta ini bisa membuat berbagai institusi kesehatan untuk memahami korban nyata dari tembakau.

"Kematian ini seharusnya ditambahkan pada sekitar 5,1 juta kematian yang merupakan akibat merokok (aktif), untuk mendapatkan efek penuh dari merokok secara aktif maupun pasif. Kebiasaan merokok ini menyebabkan lebih dari 5,7 juta kematian setiap tahun," katanya.

Badan kesehatan dunia ini menyatakan kepeduliannya mengenai 165.000 anak yang tewas akibat infeksi saluran pernafasan yang berhubungan dengan asap rokok, kebanyakan terjadi di Asia Tenggara dan Afrika. Selain meningkatkan risiko kondisi pernafasan, paru-paru anak yang bernafas dalam asap rokok juga bisa berkembang lebih lambat daripada anak-anak yang tumbuh dalam rumah yang bebas asap rokok.

Paparan asap rokok diperkirakan telah mengakibatkan 379.000 kematian perokok pasif dari penyakit jantung, 165.000 dari infeksi saluran pernafasan, 36.900 dari asma, dan 21.400 dari kanker paru-paru.
Kalau sudah begini, masihkah Anda berkeras merokok di depan orang lain?
Senin, 29 November 2010 | 18:22 WIB
Sumber : Marie Claire

Wanita Perokok Terancam Kanker Payudara


Kompas.com - Merokok ternyata tidak cuma memicu penyakit yang berkaitan dengan saluran pernapasan. Studi terkini menunjukkan perempuan perokok beresiko lebih besar menderita kanker payudara, terutama jika mereka sudah menjadi perokok sejak usia belia.
Walaupun risikonya cenderung kecil, namun perempuan perokok beresiko 6 persen lebih tinggi menderita kanker payudara dibandingkan dengan bukan perokok. Wanita yang menghabiskan sebungkus rokok setiap hari selama periode 30 tahun risikonya melonjak menjadi 28 persen.
"Perokok mungkin bukan bukan faktor utama kanker payudara, tapi ketika kita melihat wanita dalam kelompok perokok berat dan sudah merokok sejak muda, ini menjadi hal yang serius," kata Karin Michels, Ph.D, ahli epidemiologi kanker dan obgyn dari Harvard Medical School yang melakukan riset ini.
Studi-studi sebelumnya mengenai pengaruh rokok pada kanker payudara menghasilkan hasil yang imbang. Sebagian studi menyimpulkan rokok meningkatkan risiko, namun sebagian lagi tidak menemukan adanya kaitan.
Asap tembakau mengandung ribuan bahan atau zat, termasuk bahan kimia, gas, dan tetesan-tetasan dari tar. Namun merokok diketahui akan menurunkan kadar estrogen, salah satu pemicu kanker payudara. "Itu sebabnya beberapa studi tidak menemukan kaitan antara rokok dan kanker payudara," kata Michels.
Dalam risetnya, Michel dan timnya meneliti 110.000 wanita  yang sudah 30 tahun menjadi perokok. Secara umum, terdapat 8.772 responden yang menderita kanker payudara selama periode penelitian.
Mereka yang sudah jadi perokok, minimal sebelum melahirkan anak pertama, risikonya terkena kanker payudara lebih tinggi. Melahirkan bayi diketahui akan melindungi perempuan dari kanker payudara, diduga hal ini karena perubahan yang terjadi pada jaringan payudara.
"Risiko kanker payudara lebih besar pada periode transisi hormonal, misalnya masa premenapause dan pasca menopause ketika terjadi berbagai perubahan fungsi hormon," kata Joanne Mortimer, M.D, direktur the Women's Cancer Program. Ia tidak terlibat dalam penelitian ini.
Faktanya, wanita yang merokok pasca menopasue memiliki risiko lebih kecil dibanding bukan perokok untuk terkena kanker payudara. Hal ini karena orang yang sudah menopause dan perokok memiliki kadar estrogen yang rendah.
Selasa, 25 Januari 2011 | 12:05 WIB
Sumber : CNN

Efek Rokok pada Organ Pencernaan

Selasa, 8 Februari 2011 | 12:05 WIB
shutterstock
Kompas.com - Merokok itu berbahaya, bukan hanya karena berkaitan dengan kesehatan paru dan jantung, tapi juga mengganggu organ lain di tubuh, salah satunya organ pencernaan.
Rokok merupakan salah satu penyebab produksi asam dan gas menjadi berlebihan dalam lambung. Akiabatnya mungkin Anda akan merasa mual, perut kembung dan nyeri, meski Anda tidak pernah terlambat makan.
"Pada penderita tukak lambung atau maag, segera tinggalkan kebiasaan merokok karena rokok akan membuat perut bertambah kembung dan juga terjadinya perlukaan di usus atau lambung," papar dr.Ari Fahrial Syam, Sp.PD, ahli pencernaan dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI Jakarta ini.
Rokok juga menjadi faktor risiko terbesar pada kanker pankreas. Penelitian menunjukkan perokok berpeluang terkena kanker pankreas tiga kali lebih besar daripada bukan perokok. "Mayoritas pasien saya yang terkena kanker ini juga perokok," cetus dr.Ari.
Mengapa rokok berbahaya, jawabannya mungkin sudah diketahui banyak orang. Ini karena asap rokok mengandung sekitar 4000 bahan kimia, termasuk bermacam-macam racun dalam takaran sangat kecil seperti DDT, arsenik, tar, ammoniac, dan masih banyak lagi.
"Rokok juga mengandung zat-zat karsinogenik atau pencetus kanker," tambah dokter yang menjadi ketua bidang advokasi Perhimpunan Dokter Penyakit Dalam ini.

Sabtu, 05 Februari 2011

Merokok Bukan Hak Asasi Manusia

Vera Farah Bararah - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Selama ini setiap ada larangan merokok, maka para perokok selalu berdalih bahwa merokok adalah hak asasi manusianya. Padahal merokok bukanlah hak asasi tapi hanya kebutuhan seseorang saja.

"Hak asasi manusia adalah sesuatu yang jika tidak terpenuhi bisa mengancam jiwa, tapi kalau merokok jika tidak terpenuhi tidak akan mengancam jiwanya. Jadi merokok bukanlah hak asasi," ujar dr Hakim Sorimuda Pohan, SpOG dalam acara diskusi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) 'Mengembalikan Arah Kebijakan Pengendalian Tembakau yang Pro Kesehatan Masyarakat' di sekretariat IDI, Jl dr Sam Ratulangi, Jakarta, Rabu (29/12/2010).

dr Hakim menuturkan salah satu contoh hak asasi adalah makan, jika seseorang tidak makan maka ia bisa meninggal. Sedangkan jika ada orang yang harus menggunakan minyak rambut untuk meningkatkan kepercayaan diri, maka hal tersebut adalah kebutuhan dan bukan hak asasi manusia.

"Selain itu menghirup lingkungan yang sehat dan bersih adalah salah satu hak asasi yang ada di dalam UUD'45. Karena asap rokok bisa mengganggu kesehatan dan kemanusiaan, jadi orang yang merokok tanpa menghormati tata cara merokok yang benar berarti ia orang yang tidak beradab," ungkapnya.

Merokok adalah salah satu kebiasaan yang bisa membahayakan diri sendiri, lingkungan dan menyebabkan ketagihan, sehingga diperlukan aturan tersendiri untuk mengatur tata cara merokok.

Berdasarkan data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2008, Indonesia merupakan negara pengguna rokok terbesar ketiga setelah China dan juga India. Dan berdasarkan survei AC Nielsen tahun 2009 diketahui produksi rokok di Indonesia sebesar 260 miliar batang rokok, sedangkan tahun 1970 produksinya hanya sebesar 35 miliar batang rokok.

"Kita tidak akan melarang orang yang sudah kecanduan rokok untuk berhenti, karena mereka sebenarnya sudah dewasa. Kalau kita sudah beri peringatan dan penyuluhan tapi ia tetap tidak mau berhenti, maka itu adalah cara kematian yang ia pilih sendiri," ujar dr Hakim yang merupakan mantan anggota DPR Komisi IX.

dr Hakim menuturkan ada tiga jenis kematian, yaitu:

  1. Kematian yang tidak bisa dicegah (unpreventable death), misalnya jika seseorang yang sudah berusia di atas 90 tahun dan mengalami beberapa kali stroke, maka kematian yang terjadi sudah tidak bisa dicegah.
  2. Kematian yang bisa dicegah (preventable death), misalnya jika ada kecelakaan dan lambat mendapatkan pertolongan maka kematian yang terjadi sebenarnya bisa dicegah. Jenis kematian ini juga termasuk akibat merokok, karena kematian akibat rokok sebenarnya bisa dicegah jika seseorang berhenti mengonsumsi rokok.
  3. Kematian yang kemungkinan bisa dicegah (probably preventable death), misalnya ada anak muda yang ugal-ugalan, mengebut lalu mengalami kecelakaan yang menyebabkan kondisi parah, maka kematian yang terjadi kemungkinan bisa dicegah.

"Selama ini diketahui bahwa kematian adalah suatu takdir, tapi kematian akibat rokok sebenarnya bisa dicegah," ungkapnya.

dr Prijo Sidipratomo, SpRad (K) selaku Ketua umum PB IDI menuturkan bahwa merokok bisa menyebabkan berbagai penyakit dan kecanduan yang ditimbulkan bisa membuat orang merasa cemas, gelisah atau efek lainnya. Tapi sayangnya saat ini jumlah perokok dikalangan generasi muda semakin meningkat, dan pada perempuan mengalami peningkatan sebesar 3 kali lipat.

Kesehatan merupakan salah satu hak asasi manusia yang harus diwujudkan sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Untuk itu jika seseorang ingin merokok sebaiknya tidak mencelakakan orang lain.

"Merokoklah secara beradab dan jangan mencelakakan orang lain. Jika ingin merokok maka nikmati rokok dan asapnya sendiri, misalnya dengan cara menutup muka menggunakan kantong plastik hitam yang tidak dibuka sampai rokoknya selesai, jadi asap dan rokoknya dihisap sendiri," ujar mantan ketua IDI, dr Kartono Mohammad.
(ver/ir)

RUU Rokok Tidak Hancurkan Petani Tapi Lindungi Warga

Vera Farah Bararah - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Isu yang selama ini berkembang di masyarakat adalah RUU mengenai rokok bisa merugikan dan menyengsarakan petani tembakau. Hal ini keliru karena RUU tersebut dibuat untuk melindungi kesehatan masyarakat.

RUU Pengendalian Dampak Produk Tembakau Terhadap Kesehatan (RUU PDPTK) yang telah diusulkan oleh anggota DPR periode 2004-2009 belum juga disahkan, hal ini karena mendapat intervensi dari asosiasi petani tembakau Indonesia.

Padahal RUU ini dibuat untuk memperjuangkan pengendalian tembakau dalam hal melindungi masyarakat dari adiksi produk tembakau serta para perokok pasif dari ancaman asap rokok di lingkungannya.

Merokok adalah kebiasaan masyarakat yang bisa membahayakan diri sendiri, lingkungan dan juga menyebabkan kecanduan. Risiko kematian akibat kanker paru-paru pada laki-laki yang merokok lebih besar 23 kali sedangkan untuk wanita yang merokok sebesar 13 kali lipat dan sepertiga dari perokok tersebut meninggal dengan rata-rata waktu meninggal 15 tahun lebih cepat dibandingkan yang tidak merokok.

"Bagaimana bisa produk yang begitu berbahaya ini diproduksi, dipromosikan dan juga diperjualbelikan secara bebas. Jadi memang harus ada peraturan yang mengaturnya," ujar Laksmiati A Hanafiah, dari Komnas Pengendalian Tembakau dalam acara diskusi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) 'Mengembalikan Arah Kebijakan Pengendalian Tembakau yang Pro Kesehatan Masyarakat' di sekretariat IDI, Jl dr Sam Ratulangi, Jakarta, Rabu (29/12/2010).

Perempuan yang akrab disapa Mia ini menuturkan bahwa RUU tersebut tidak bermaksud menutup pabrik rokok atau menyengsarakan ratusan petani tembakau. Jadi isu yang menyebutkan bahwa peraturan ini bisa menyengsarakan petani terlalu berlebihan. Tapi RUU ini dibuat untuk melindungi kesehatan orang-orang dari produk berbahaya ini.

Sementara itu dr Hakim Sorimuda Pohan, SpOG yang juga menggagas RUU PDPTK menuturkan ada 6 unsur yang terdapat dalam draft RUU tersebut, yaitu:

  1. Meningkatkan biaya cukai sehingga harganya tidak mudah dijangkau oleh masyarakat.
  2. Ada dana untuk penanggulangan dampak dari tembakau. Sebagian atau sebesar 10 persen dari biaya cukai ini digunakan untuk menutupi kerugian yang diderita masyarakat misalnya melalui promosi, penyuluhan, klinik konsultasi dan juga konselor untuk membantu berhenti merokok.
  3. Ada aturan yang menyebutkan bahwa anak-anak di bawah usia 18 tahun dilarang membeli rokok, baik untuk dirinya sendiri atau untuk orangtuanya.
  4. Ada kawasan yang memang ditetapkan sebagai daerah tanpa rokok, karena merokok bukan termasuk dalam hak asasi manusia.
  5. Adanya larangan untuk promosi produk rokok, sebagai sponsor suatu acara atau periklanan.
  6. Adanya peringatan mengenai bahaya rokok yang tidak hanya berupa tulisan, namun dalam bentuk gambar. Hal ini untuk melindungi orang-orang yang mulai mencoba merokok.

Saat ini kata dr Hakim industri rokok semakin terang-terangan melakukan gerilya dengan cara membantu dana untuk sidang-sidang RUU tersebut, yang isinya sudah diolah sehingga tidak lagi melindungi kesehatan melainkan untuk kepentingan industri rokok.

"Kalau ingin melindungi para petani tembakau maka harus menutup impor tembakau karena selama ini tembakau diimpor dari luar seperti dari China. Dan yang membuat para petani sengsara sebenarnya para industri rokok, karena petani tidak bisa menjual tembakaunya selain ke industri tersebut," ujar dr Kartono Mohammad.

Karenanya Ketua PB IDI dr Prijo Sidipratomo, SpRad(K) mendesak pemerintah untuk segera membahas RUU PDPTK yang pro kesehatan masyarakat untuk memenuhi hak asasi manusia dan melindungi masyarakat dari kerusakan kesehatan, sosial dan lingkungan akibat konsumsi produk tembakau dan paparan asap rokok.
(ver/ir)