Limantina_sihaloho
The health cost burden to the state for treating such patients reached an estimated Rp 167 trillion a year in 2005, five times the annual revenue of cigarette excise taxes. (Sumber: The Jakarta Globe: Smoking and Poverty).
Tahun 2005 saja sudah sebesar 167 triliun dana negara hanya untuk biaya akibat rokok. Jumlah ini bisa meningkat mengingat perokok di Indonesia sudah mencapai 64 juta orang. Iklan-iklan rokok terus menyerbu sepanjang 24 jam non-stop. Sampai-sampai warga negara di Indonesia ini, kebanyakan, tak tahu bahwa rokok itu berbahaya. Yang mereka lihat di iklan-iklan di televisi dan media massa lainnya adalah orang-orang yang sehat dan berprestasi bukan orang-orang yang sakit dan batuk-batukan. Ya ini memang cara licik pemilik produk untuk menjual produknya; sama dengan modus pemilik makanan-makanan instan lainnya. Mana pernah pula ada pemilik produk mie instan yang bilang kalau usus manusia bisa robek seperti kena air batere (keras) kalau terus-menerus makan mie instan?
Bandingkan dengan anggaran pendidikan untuk seluruh warga negara di Indonesia tahun ini: 221,4 triliun. Selisihnya tidak jauh berbeda dengan biaya negara untuk mengurus dampak buruk rokok, 167 triliun tahun 2005. Biaya pendidikan ini adalah untuk semua urusan, mulai dari gaji guru sampai dana-dana bantuan kepada murid.
Jumlah 167 triliun itu belum termasuk berapa besar dana masyarakat setiap hari apalagi setiap tahun hanya untuk membeli rokok. Belum lagi dana masyarakat untuk biaya kesehatan akibat rokok sebab tentu saja tidak semua bisa berasal dari anggaran negara. Saya perkirakan, biaya yang harus masyarakat tanggung juh lebih besar daripada biaya yang negara harus keluarkan.
Banyak harga yang harus penduduk negeri ini bayar akibat rokok. Di kalangan perekonomian menengah ke bawah, terutama di kalangan bawah, justru keadaan sangat mengenaskan sebab biaya rokok orang tua jauh lebih besar daripada biaya pendidikan anak-anak dalam keluarga itu.
Banyak yang tidak tahu bahwa merokok itu berbahaya sekalipun mereka sudah batuk-batuk, gigi hitam berlubang, sebagian leher perokok berat yang sudah puluhan tahun merokok bolong. Mereka tidak tahu atau tidak mau tahu sebab di media-media massa, yang mereka lihat adalah para perokok dengan penampilan beken. Plus, para perokok ini sebagian bisa gemetaran kalau tidak merokok sebab zat-zat adiktif dalam rokok telah menguasai tubuh dan darah mereka. Sama persis seperti orang yang kecanduan narkoba dan narkotika.
Naif betul pemerintah dan masyarakat yang membiarkan dan tidak peduli terhadap biaya tinggi yang harus ada untuk rokok. Dana ratusan miliar itu sebaiknya secara bertahap bisa kita gunakan untuk membantu para petani tembakau dan para buruh pabrik rokok untuk beralih ke tanaman bukan tembakau dan pekerjaan bukan di pabrik rokok.
Yang mudah kenapa harus dipersulit kecuali kemaruk karena mengharapkan masukan dari balik layar dari para pemilik perusahaan rokok yang hanya mementingkan dirinya sendiri dengan cara mengeksploitasi petani tembakau dan buruh pabrik rokok?
Ganti saja tanaman tembakau dengan tanaman pangan yang berguna bagi manusia; para pekerja pabrik rokok bisa bekerja di jalur yang sama.
Yang takut adalah para pemilik perusahaan rokok sebab dengan santai-santai saja menjual kebohongan dan 4000-an jenis penyakit bisa memperoleh untung sebanyak-banyaknya. Bersembunyi di balik acara-acara sosial persis serigala berbulu domba: memberi beasiswa, bikin pasar murah, mensponsori kegiatan-kegiatan olahraga dan seni budaya. Benar-benar serigala berbulu domba kan itu!
Secara sistematis, para pemilik pabrik rokok menjual produk-produk mereka sampai ke pelosok-pelosok negeri. Di hampir semua warung termasuk warung-warung kecil, rokok kita temukan dengan mudah saja. ***
Catatan tambahan :) Saya bisa maklum saja mengapa si anak muda yang saya tidak sebutkan namanya dalam postingan saya sebelum ini, 172 juta penduduk Indonesia terpapar asap rokok, memberikan rating asal tulis untuk postingan ini satu jam lebih kemudian setelah saya klik publish. Saya hargailah amarahnya itu. Anak muda! Stay cool! Saya menghormati Anda sebagai sesama, peduli pada Anda termasuk kesehatan Anda dan lebih dari 200 juta warga negara ini yang 172 juta setiap hari harus terpapar asap rokok dari orang-orang seperti Anda!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar